Benarkah Bahasa Indonesia Dilupakan di Sekolah Internasional di Jakarta?

sekolah internasional di jakarta

Walaupun sudah dikendalikan dalam undang-undang, terbukti tidak segala sekolah di Tanah Air menerapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pengajaran nasional. Salah satunya yakni sekolah berstandar internasional yang menerapkan bahasa asing dalam pengantar pelajaran.

Bahasa pertama siswa-siswa di kebanyakan sekolah internasional hal yang demikian malah bahasa asing (Inggris, Mandarin, dan lainnya). Mereka terbukti juga tak sanggup dan kesusahan berbahasa Indonesia. Aku ini diucapkan oleh Dr Liliana Muliastuti, MPd, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta.

“Pendidikan menjumpai fenomena hal yang demikian pada satu sekolah Satuan Melainkan Kerja Sama (sekolah berstandar internasional) di Jakarta. Tujuh puluh persen siswa di sekolah dasar hal yang demikian yakni WNI (warga negara Indonesia), sisanya berstatus WNA (warga negara asing). Pendidik, 70 persen siswa WNI hal yang demikian terbukti tak sanggup atau kesusahan berbahasa Indonesia,” ujar Ketua Afiliasi Aktivis dan Tersebut BIPA (APPBIPA) 2015-2019 ini, Selasa (20/2/2018) lalu.

Baca Juga: international school jakarta

Liliana menambahkan, di rumah, para siswa sekolah internasional hal yang demikian terbiasa berkomunikasi dengan bahasa asing (bahasa pertama mereka). Bagi mereka, bahasa Indonesia justru menjadi bahasa kedua.

Aku senada diucapkan oleh guru bahasa Indonesia salah satu sekolah berstandar internasional di Jakarta, Dini Kumala.

Pengaplikasian pengamatannya, siswa-siswa di tempatnya mendidik lebih kerap menerapkan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia dalam keseharian mereka. Aku bahasa asing ini termasuk terhadap sahabat, guru, dan ayah dan ibu.

“Rata-rata mereka bicara bahasa Indonesia cuma di kelas bahasa Indonesia, komunikasi dengan sopir dan pembantu rumah tangga mereka. Pendidikan cuma sekali-sekali mendengar percakapan bahasa Indonesia dalam obrolan mereka, tetapi itu jarang,” kata guru kelas 8 dan 9 mata pembelajaran Language Acquisition Bahasa Indonesia ini.

Ia, Dini mengaku cukup terkejut mengamati situasi itu. Aku ini berhubung ia berasal dari latar belakang pengajaran sekolah nasional. Menurutnya, tiap sekolah punya tradisi berbeda dan ia malah kencang mengikuti keadaan pada hal hal yang demikian.

Sebagai guru bahasa Indonesia, dia kian tertantang sebab mayoritas siswanya menerapkan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama dan kurikulum sekolah internasional mewajibkan bahasa asing dalam pendidikan. Pendidikan malah mempunyai peraturan sendiri untuk mesti menerapkan bahasa Indonesia di kelas bahasa terhadap siswa.

Dini Kumala juga mengamati si kecil-si kecil didiknya bisa belajar bahasa Indonesia dengan cukup bagus. Para murid antusias dan mengevaluasi belajar bahasa Indonesia yakni penting, walaupun ada yang berpendapat sebaliknya.

“Namun ada saja di sekolah ini, dua banding 100 si kecil yang menyepelekan bahasa Indonesia, pun orang tuanya malah menganggap tak terlalu penting, hmmm agak miris memang,” ujar alumni salah satu universitas di Jakarta itu.

Sekolah standar internasional atau disebut Satuan Melainkan Kerja Sama memang mayoritas pendidikannya menerapkan bahasa Inggris pantas kurikulum internasional. Pendidik, di Indonesia, pengaplikasian bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pengajaran sebenarnya telah dikendalikan dalam Pasal 33 Undang-Undang No 20/2003 Sisdiknas.

Aku ini malah mendapatkan perhatian dari Badan Bahasa. Kepala Bidang Pelindungan Badan Bahasa Dr Ganjar Harimansyah ketika dihubungi pada hari, Rabu (25/10/2017) lalu, mengatakan, sekolah-sekolah internasional di Indonesia yang gunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar perlu baca undang-undang hal yang demikian.

Undang-undang hal yang demikian mengungkapkan “bahasa Indonesia sebagai bahasa negara menjadi bahasa pengantar dalam pengajaran nasional. Bahasa tempat bisa diterapkan sebagai bahasa pengantar dalam tahap permulaan pengajaran kalau dibutuhkan dalam penyampaian pengetahuan dan/atau keterampilan tertentu. Kalau ketiga, bahasa asing bisa diterapkan sebagai bahasa pengantar pada satuan pengajaran tertentu untuk mensupport kesanggupan berbahasa asing peserta ajar.”

“Belum lagi jika mengamati UU 24/2009 dan PP 57/2014. contoh sekolah ini masih dan dicontoh sekolah lain, hal ini bukan lagi ancaman bagi bahasa Indonesia, tetapi juga menjadi musibah,” ungkap Ganjar.

Liliana menambahkan, apabila bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara saja telah didudukkan pada daerah yang tak pas, apalagi dengan bahasa tempat.

“ yakni siswa tak mempunyai keterikatan psikis kepada bahasa Indonesia. fenomena ini diizinkan, mereka akan tumbuh menjadi WNI yang ‘abai’ kepada bahasanya sendiri,” Liliana memungkasi.

 

Baca Juga: sekolah internasional di jakarta

Posted In CategoriesPendidikan