Sesuaikan Pendidikan dengan Potensi yang Dimiliki Anak

cambridge curriculum

Euforia hadirnya sekolah “berkelas internasional” makin kuat di Tanah Air. Dikala ini kian banyak bermunculan sekolah yang menawarkan cara pengajaran bermutu atau berstandar internasional di Indonesia.

Dengan embel-embel internasional itu, sebagian sekolah menambahkan kurikulum tertentu yang khas di luar kurikulum nasional. Sekolah-sekolah hal yang demikian memakai progres pelajaran dengan ciri khas masing-masing.

Berdasarkan praktisi pengajaran Bambang Irianto, hal yang perlu disadari ayah dan ibu yakni bukan cuma mencari sekolah yang bagus. Menurut utama untuk diingat yakni sistem sekolah hal yang demikian memberikan pengajaran cocok potensi si kecil menurut cara pengajaran yang ditawarkannya.

“Perjalanan pengajaran yakni perencanaan menyeluruh dan berkesinambungan atas level pengajaran yang akan dilewati si kecil, mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi,” ujar Bambang, Rabu (19/1/2016) lalu.

Berdasarkan ia, merencanakan perjalanan pengajaran semenjak dini akan menolong orang tua memberi bimbingan si kecilnya menerima pengalaman belajar yang lebih tepat sasaran. Dengan demikian itu, orang tua bisa memberikan manfaat rentang panjang lebih maksimal pada si kecil.

“Salah satunya kans lebih besar untuk alternatif karir yang bagus. Saat itu, untuk memahami dan merencanakan perjalanan pengajaran  penting bagi orang tua, terutamanya dulu wajib dipahami keunikan cara pengajaran di Indonesia dikala ini,” katanya.

Dikala ini, secara lazim di Indonesia berkembang empat cara pengajaran yang diakui dan sudah diaplikasikan.

Metode cara pengajaran dengan karakteristik dan sistem pendidikan masing-masing itu akan menjadikan generasi penerus dengan potensi yang berbeda, adalah:

 

1. Sistem Pendidikan Eropa – International Baccalaureate (IB) 

International Baccalaureate (IB) yakni rangkaian cara pengajaran yang bisa memenuhi keperluan pengajaran si kecil semenjak umur 3 sampai 19 tahun.

Tak pengajaran ini menerapkan kurikulum secara luas dan mensupport pengendalian materi yang berimbang, termasuk pemusatan pelajaran pada siswa dan penekanan pada konteks global. IB school jakarta sudah banyak yang membuka sistem pendidikan ini.

Tak ini juga menstimulus siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat dengan mempunyai antusiasme belajar dan empati yang tinggi.

Sebuah riset skala global mencatat bahwa sekolah-sekolah IB diukur paling tepat sasaran untuk mengoptimalkan para jebolan secara matang dengan adanya kombinasi sumber energi kurikulum di luar yang disediakan oleh IB.

Manoharan Karthigasu, salah satu praktisi pengajaran di Indonesia yang mempunyai pemahaman mendalam mengenai cara pengajaran International Baccalaureate (IB), mengatakan bahwa cara pengajaran ini bertujuan untuk mengoptimalkan siswa dengan tingkat pengetahuan luas. Dalam hal ini siswa yang berkembang bagus secara jasmani, intelektual, emotional dan sopan santun.

“Program ini juga bertujuan untuk meningkatkan semangat, percaya diri serta mengajar siswa untuk berani mengemukakan pendapatnya. Pada cara ini, siswa disupport untuk bisa menerapkan apa yang mereka pelajari dengan apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Menurut ini membikin cara belajar mendidik lebih kontekstual dan secara pribadi bermakna bagi si kecil,” kata Manoharan.

Manorahan menambahkan, cara ini siswa juga dididik untuk menganalisis berita-berita yang berkembang dan bagaimana berita hal yang demikian memberikan imbas terhadap dunia.

Sejak cuma itu. Siswa juga belajar memahami bagaimana berita hal yang demikian bisa berhubungan satu sama lain; memungkinkan siswa untuk mengoptimalkan pola pikir dan perspektif secara global.

 

2. Sistem Pendidikan Pengajaran Nasional di Indonesia 

Indonesia mempunyai cara nasional pengajaran tersendiri yang memakai mesti belajar 12 tahun, adalah 9 tahun pengajaran dasar mencakup 6 tahun di sekolah dasar, dan 3 tahun di Sekolah Menengah Pertama, serta 3 tahun di Sekolah Menengah Atas.

Tak pengajaran yang berada di bawah pengawasan Kementerian Pengajaran dan Kebudayaan ini mengoptimalkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, yang berarti aspek intelektual, spiritual, dan personal bagi si kecil akan menjadi perhatian.

Selain, semenjak dua dekade terakhir sekolah nasional yang mengadopsi juga kurikulum lain seperti Cambridge dan lainnya.

 

3. Sistem Pendidikan UK – Cambridge 

Britania Raya atau Inggris yakni rumah bagi sebagian perguruan tertua di dunia, antara lain Cambridge (1209) dan Oxford (1096). Sejak heran, Inggris mempunyai cara pengajaran yang paling mengakar di dunia.

Metode 1880 Inggris melegalkan program mesti belajar untuk si kecil umur 5 sampai 10 tahun. Pada 2013 cara pengajaran di negara ini Inggris kemudian menambah batas umur mesti belajar sampai umur 18 tahun. Tak hal yang demikian diukur sudah memenuhi keperluan pengajaran si kecil dari umur 6 sampai 18 tahun atau semenjak tingkat dasar sampai universitas.

Tak pengajaran berdurasi 16 tahun ini mempunyai penekanan pada pengendalian materi mata pembelajaran dan keahlian sebagai konsentrasi utama serta pengakuan kualifikasi ternama termasuk sertifikasi PSLE, O tahapan, dan A tahapan. Ketiganya diakui secara internasional di seluruh sekolah dan perusahaan berhubungan.

Tak heran cambridge curriculum sekarang banyak yang menerapkan sistem pendidikannya, terutama di negara-negara maju yang ada di seluruh dunia.

 

4. Sistem Pendidikan Amerika 

Kurikulum yang ditekankan pada cara pengajaran ini yakni pada pelajaran kontekstual lewat kesanggupan persoalan solving dan konsentrasi pada Science, Technology, Engineering, Art dan Math (STEAM).

Penekanan yang diterapkan bervariasi dan mempunyai berbagai kesamaan dalam hal pendekatan luas pada gaya belajar dan pengendalian materi.

Tak Amerika bisa memenuhi keperluan pengajaran para siswanya semenjak umur 3 hingga 18 tahun, yang diukur sebagai dikala yang pas terjadinya pengembangan pengetahuan, kognitif dan sosial yang berimbang. Pendidikan itu, lewat sebuah trek inovatif, siswa bisa mempersingkat sempurna durasi belajar menjadi cuma 14 tahun.

 

Alternatif, seiring era globalisasi, pelajar Indonesia dihadapkan pada keadaan wajib sanggup berkompetisi secara internasional. Sebagai pengingat, Indonesia dikala ini menduduki posisi terakhir dari 40 negara yang diukur dalam hal pencapaian pengajaran berdasarkan Laporan The Learning Curve Pearson 2014.

Pendidikan itu, Indonesia menduduki peringkat ke-64 dari 65 negara pada peringkat pengajaran global PISA dalam hal matematika, sains dan membaca.

Untuk menjawab tantangan itu, telah saatnya generasi muda Indonesia dibekali cara pengajaran yang cocok guna menyusun mereka menjadi generasi yang siap kerja dan menghadapi tantangan global hal yang demikian.

“Layanan pengajaran ini akan memberikan imbas yang bagus pada orang tua untuk mempertimbangkan mana yang cocok dengan potensi si kecil-si kecilnya. Saat alternatif itu akan menetapkan perjalanan pengajaran yang dicapai dan berimbas optimal,” kata Bambang.

Pantaskah Julukan “Sekolah Internasional” Dipakai Sampai Sekarang?

sekolah di BSD

 

Sedangkan tahun ajaran baru masih sebagian bulan lagi, beberapa orang tua telah mulai mencari sekolah yang ideal bagi buah hati-buah hati mereka.

Sekolah bahkan mulai membuka pintu untuk menyeleksi murid baru, termasuk sekolah-sekolah yang memakai kurikulum luar negeri.

Sekolah-sekolah berkurikulum luar negeri dengan pengantar bahasa asing di kelas banyak diperbincangkan, lebih-lebih berkaitan pengaplikasian label ”ïnternasional” sebagai energi jual.

Dikhawatirkan sekolah sekedar melekatkan label itu demi mempesona hati orang tua. Sekedar berlabel internasional, tapi dikala orang tua menyekolahkan buah hati di sana, mereka tidak menerima manfaat yang diinginkan.

Untuk menghindari dan mencegah praktik-praktik yang merugikan masyarakat hal yang demikian, pemerintah mencoba menertibkan dan membenahi praktik sekolah-sekolah itu. Soal pelabelan, umpamanya, sekolah-sekolah yang dahulu mengaplikasikan label internasional sekarang harus menghilangkan label hal yang demikian.

Baca Juga: sekolah di BSD

Direktur Jenderal Pengajaran Dasar Kementerian Pengajaran dan Kebudayaan (Kemdikbud) Hamid Muhammad berargumen sebagian waktu lalu, ”Jangan hingga kata internasional disalahgunakan untuk minta uang sekolah lebih dari orang tua dan membikin masyarakat berdaya upaya sekolah non-internasional tak baik.”

Larangan yang berlaku semenjak 31 Desember 2014 itu bertujuan mencegah terjadinya diskriminasi dan komersialisasi di dunia pengajaran Indonesia.

Sekolah-sekolah tak boleh lagi memakai nama internasional dan diharuskan berganti status menjadi satuan pengajaran kerja sama (SPK). Itu berarti kecuali mengaplikasikan kurikulum nasional, sekolah hal yang demikian juga mengadaptasi kurikulum dari luar negeri.

Mengutip data Direktorat Jenderal Pengajaran Dasar Kemdikbud per 13 Februari 2015, sebanyak 131 sekolah dasar dan 123 sekolah menengah sudah mengurus izin SPK. SPK patut mencontoh cara kerja akreditasi dan ujian nasional (UN). SPK konsisten patut mengajari mata pembelajaran Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, dan Agama bagi murid-murid Indonesia.

Status sekolah bahkan ditegaskan. Sekarang, kecuali SPK, cuma ada sekolah negeri (didirikan pemerintah), sekolah swasta (didirikan dan dikelola yayasan mandiri), dan sekolah internasional. Pengertian internasional dalam tipe yang terakhir itu berbeda dari sebelumnya.

Internasional dalam hal ini merupakan sekolah khusus bagi buah hati-buah hati para diplomat asing. Sekolah itu tak boleh mendapatkan kekuatan pendidik maupun murid berkebangsaan Indonesia.

Tidak cukup soal nama, pemerintah juga memperketat pendirian sekolah-sekolah sejenis SPK. Yayasan swasta yang mau mendirikan SPK patut mempunyai modal sekolah swasta berkurikulum nasional dan terakreditasi A.

Akreditasi A adalah bukti sekolah memenuhi delapan standar sekolah layak Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 perihal Metode Pengajaran Nasional (UU Sisdiknas). Institusi pengajaran dari luar negeri yang akan diajak berprofesi sama juga patut berakreditasi A.

Akreditasi hal yang demikian menurut delapan standar satuan pengajaran yang diceritakan dalam UU Sisdiknas, di antaranya bangunan, alat dan peralatan, serta kekuatan pendidik. Standar intinya konsisten cara kerja pelajaran yang berorientasi pada pengembangan diri dan intelektual. Akreditasi adalah hal yang semestinya dilewati oleh tiap lembaga pengajaran di Indonesia.

Progres itu dikerjakan oleh institusi independen dengan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang disalurkan via Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud.

Para asesor yang terlibat dalam cara kerja akreditasi antara lain pengawas sekolah, dosen perguruan tinggi, serta aktivis pengajaran yang telah dilatih dan diseleksi untuk mengemban tanggung jawab hal yang demikian. Ketika ini, 127 sekolah yang sudah menerima izin SPK tengah memenuhi syarat untuk akreditasi.

Sekolah-sekolah yang sudah berganti status itu, padahal memakai bahasa pengantar bahasa asing dan mengadopsi kurikulum dari luar negeri, konsisten patut mencontoh UN. Ketika ini, UN tak lagi dipakai sebagai prasyarat kelulusan.

Fungsinya lebih sebagai alat pemetaan, pengukur kecakapan, dan pembinaan dari pemerintah konsisten berjalan. Sebab itu, SPK tak terlepas dari ketiga fungsi UN hal yang demikian.

Dengan mengaplikasikan prasyarat-prasyarat itu, diinginkan mereka yang menentukan mendirikan SPK konsisten dalam koridor cara pengajaran nasional. Bagaimanapun, pengajaran yang ditawarkan oleh sekolah-sekolah itu menyasar buah hati bangsa.

Seperti anggapan pengamat pengajaran Doni Koesoema, eksistensi sekolah internasional dan SPK di Indonesia harus memberi manfaat bagi perkembangan pengajaran nasional. Pemerintah tentu tak dapat membatasi harapan orang tua untuk memilih sekolah bagi buah hati-buah hati mereka.

Tiap orang tua punya poin dan tujuan masing-masing berkaitan masa depan buah hati. Tetapi, pemerintah dapat membatasi mutu segala sekolah di Indonesia supaya layak dengan visi dan misi pengajaran nasional serta amanat Undang-Undang Dasar 1945.

 

Sumberhttps://www.swa-jkt.com/

Benarkah Bahasa Indonesia Dilupakan di Sekolah Internasional di Jakarta?

sekolah internasional di jakarta

Walaupun sudah dikendalikan dalam undang-undang, terbukti tidak segala sekolah di Tanah Air menerapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pengajaran nasional. Salah satunya yakni sekolah berstandar internasional yang menerapkan bahasa asing dalam pengantar pelajaran.

Bahasa pertama siswa-siswa di kebanyakan sekolah internasional hal yang demikian malah bahasa asing (Inggris, Mandarin, dan lainnya). Mereka terbukti juga tak sanggup dan kesusahan berbahasa Indonesia. Aku ini diucapkan oleh Dr Liliana Muliastuti, MPd, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta.

“Pendidikan menjumpai fenomena hal yang demikian pada satu sekolah Satuan Melainkan Kerja Sama (sekolah berstandar internasional) di Jakarta. Tujuh puluh persen siswa di sekolah dasar hal yang demikian yakni WNI (warga negara Indonesia), sisanya berstatus WNA (warga negara asing). Pendidik, 70 persen siswa WNI hal yang demikian terbukti tak sanggup atau kesusahan berbahasa Indonesia,” ujar Ketua Afiliasi Aktivis dan Tersebut BIPA (APPBIPA) 2015-2019 ini, Selasa (20/2/2018) lalu.

Baca Juga: international school jakarta

Liliana menambahkan, di rumah, para siswa sekolah internasional hal yang demikian terbiasa berkomunikasi dengan bahasa asing (bahasa pertama mereka). Bagi mereka, bahasa Indonesia justru menjadi bahasa kedua.

Aku senada diucapkan oleh guru bahasa Indonesia salah satu sekolah berstandar internasional di Jakarta, Dini Kumala.

Pengaplikasian pengamatannya, siswa-siswa di tempatnya mendidik lebih kerap menerapkan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia dalam keseharian mereka. Aku bahasa asing ini termasuk terhadap sahabat, guru, dan ayah dan ibu.

“Rata-rata mereka bicara bahasa Indonesia cuma di kelas bahasa Indonesia, komunikasi dengan sopir dan pembantu rumah tangga mereka. Pendidikan cuma sekali-sekali mendengar percakapan bahasa Indonesia dalam obrolan mereka, tetapi itu jarang,” kata guru kelas 8 dan 9 mata pembelajaran Language Acquisition Bahasa Indonesia ini.

Ia, Dini mengaku cukup terkejut mengamati situasi itu. Aku ini berhubung ia berasal dari latar belakang pengajaran sekolah nasional. Menurutnya, tiap sekolah punya tradisi berbeda dan ia malah kencang mengikuti keadaan pada hal hal yang demikian.

Sebagai guru bahasa Indonesia, dia kian tertantang sebab mayoritas siswanya menerapkan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama dan kurikulum sekolah internasional mewajibkan bahasa asing dalam pendidikan. Pendidikan malah mempunyai peraturan sendiri untuk mesti menerapkan bahasa Indonesia di kelas bahasa terhadap siswa.

Dini Kumala juga mengamati si kecil-si kecil didiknya bisa belajar bahasa Indonesia dengan cukup bagus. Para murid antusias dan mengevaluasi belajar bahasa Indonesia yakni penting, walaupun ada yang berpendapat sebaliknya.

“Namun ada saja di sekolah ini, dua banding 100 si kecil yang menyepelekan bahasa Indonesia, pun orang tuanya malah menganggap tak terlalu penting, hmmm agak miris memang,” ujar alumni salah satu universitas di Jakarta itu.

Sekolah standar internasional atau disebut Satuan Melainkan Kerja Sama memang mayoritas pendidikannya menerapkan bahasa Inggris pantas kurikulum internasional. Pendidik, di Indonesia, pengaplikasian bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pengajaran sebenarnya telah dikendalikan dalam Pasal 33 Undang-Undang No 20/2003 Sisdiknas.

Aku ini malah mendapatkan perhatian dari Badan Bahasa. Kepala Bidang Pelindungan Badan Bahasa Dr Ganjar Harimansyah ketika dihubungi pada hari, Rabu (25/10/2017) lalu, mengatakan, sekolah-sekolah internasional di Indonesia yang gunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar perlu baca undang-undang hal yang demikian.

Undang-undang hal yang demikian mengungkapkan “bahasa Indonesia sebagai bahasa negara menjadi bahasa pengantar dalam pengajaran nasional. Bahasa tempat bisa diterapkan sebagai bahasa pengantar dalam tahap permulaan pengajaran kalau dibutuhkan dalam penyampaian pengetahuan dan/atau keterampilan tertentu. Kalau ketiga, bahasa asing bisa diterapkan sebagai bahasa pengantar pada satuan pengajaran tertentu untuk mensupport kesanggupan berbahasa asing peserta ajar.”

“Belum lagi jika mengamati UU 24/2009 dan PP 57/2014. contoh sekolah ini masih dan dicontoh sekolah lain, hal ini bukan lagi ancaman bagi bahasa Indonesia, tetapi juga menjadi musibah,” ungkap Ganjar.

Liliana menambahkan, apabila bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara saja telah didudukkan pada daerah yang tak pas, apalagi dengan bahasa tempat.

“ yakni siswa tak mempunyai keterikatan psikis kepada bahasa Indonesia. fenomena ini diizinkan, mereka akan tumbuh menjadi WNI yang ‘abai’ kepada bahasanya sendiri,” Liliana memungkasi.

 

Baca Juga: sekolah internasional di jakarta

Asyiknya, Tamatan Sekolah Bisa Studi ke Jerman

Sejumlah pelajar alumnus SMA di Depok memilih melanjutkan studi dengan terbang ke luar negeri. Kali ini negara yang dipilih adalah negara Jerman.

Mereka adalah Ayu Nurdininsi alumnus SMAN 2 Depok, Alifta Rizki P alumnus SMAN 2 Depok, Dyah Ayu K alumnus SMAN 2 Depok, Sherly Amelia Kana alumnus PSKD Depok, Annisa Nur Madjina alumnus SMAN 3 Depok, dan Stephany Monica alumnus PSKD Depok. Cita – cita mereka rata-rata adalah berharap menjadi pengusaha atau pebisnis handal.

“Kami pilih Jerman sebab disana juga tarif kuliah dari pemerintahnya nol persen, cuma-cuma, namun cuma tarif hidup Rp5 juta-Rp7 juta, dan kami akan kerja part time,” kata salah satu siswa, Rizki di Depok.

Menurutnya untuk kuliah di Jerman wajib 13 tahun pengajaran dasar. Sebab itu mereka wajib meniru pengajaran penyetaraan terutama dulu.

“Sekiranya di Jerman wajib via kuliah penyetaraan. Satu tahun belajar bahasa Jerman dan adat istiadat, lalu kuliah 6 semester paling kencang. Masing-masing dari kami inginnya pilih jurusan teknik industri dan arsitek Arsitek, di Jerman lebih murah, tepat untuk pelajar. Dapat pilih kampus di KIT atau Studgart atau RWTH university daerah kuliah pak Habibie,” katanya.

Mendengar hal itu, Dinas Pengajaran Kota Depok menyambut bagus dengan memberikan dukungan moril terhadap mereka. Kepala Dinas Pengajaran Kota Depok Hery Pansila minta segala generasi muda yang mencapai studi di negeri orang wajib konsisten cinta produk Indonesia dan menjaga nama bagus bangsa.

“Mesti jadi orang yang tangguh. Pantang menyerah, cerdas atau terampil saja tidak cukup untuk hidup di luar negeri. Penjualan narkoba hati-hati menghadapi itu, sebab bebas,” terang Hery.

Hery menambahkan kecuali memberikan semangat pihaknya juga memberikan uang saku terhadap mereka. Pihaknya juga akan memfasilitasi kemudahan akomodasi bagi calon mahasiswa di Jerman kalau kesusahan memilih daerah tinggal.

“Ini sekedar format dukungan dengan uang saku, kalau kesusahan kita akan coba buka jaringan ke sana. Kami sendiri ada jaringan ke Belanda, Jerman masih sama. Hamburg juga ada, kesusahan pertama itu disana pasti bahasa,” paparnya.

 

 

 

Perayaan Rabu Abu di Saint Monica Jakarta School

Hari Rabu tanggal 14 Februari yaitu tanggal yang diperingati oleh segala umat Kristiani sebagai hari Rabu Abu. Hari Rabu Abu ini yakni hari pertama Masa Prapaskah sebagai liturgi tahunan gereja, yang membuktikan bahwa kita sudah menjelang masa tobat 40 hari sebelum Paskah, yang akan jatuh pada tanggal 30 Maret 2018 nanti. Hari Rabu Abu ini yakni penanda bagi para umat Kristiani sebagai permulaan masa Pra-Paskah, waktu pertobatan dan refleksi selama 40 hari yang memperingati pencobaan dan pergumulan yang dihadapi Yesus di padang pasir dalam bentang waktu yang sama.

Hari Rabu Abu ini umumnya diperingati dengan pemberian pertanda berupa abu berbentuk salib di dahi orang-orang Kristiani. Dalam gereja-gereja di segala dunia, abu yang disematkan pada dahi orang-orang Kristiani ini yakni hasil pembakaran daun palem yang dicampur dengan air atau minyak suci, lalu dikasih dalam bentuk berbentuk pertanda salib di dahi para umat. Praktik menandai dahi dengan abu ini yakni sebuah simbol tobat, berduka cita, dan kematian yang pada mulanya dikerjakan oleh Gereja Katolik Roma.

Di Indonesia sendiri dalam praktiknya pada sekolah-sekolah Katolik, kebanyakan sekolah Katolik meliburkan siswa siswinya untuk mencontoh misa bersama dengan keluarga masing-masing. Melainkan, panorama berbeda terjadi di Saint Monica Jakarta School. Saint Monica Jakarta School justru mengajak para siswanya untuk mencontoh misa bersama di gereja sehingga para siswa konsisten masuk ke sekolah untuk pengikuti pelaksanaan belajar-mendidik yang kemudian dilanjutkan dengan misa bersama untuk memperingati Hari Rabu Abu.

Sebagai salah satu sekolah Katolik bertaraf International di Indonesia yang menjunjung tinggi skor-skor agama dan selalu memberikan pendidikan Katolik berkwalitas tinggi dalam menghasilkan pemimpin sejati dengan nilai holistik dalam aspek intelektual, emosionil, spiritual, sosial, lahiriah, dan karakter, Saint Monica Jakarta School mengajak para siswanya dari Taman Kanak-Kanak (Preschool) hingga Sekolah Dasar (Primary) untuk berperan aktif dalam kesibukan keagamaan. Malah dalam kesempatannya merayakan Hari Rabu Abu ini, para siswa dan siswi dari Saint Monica Jakarta School mendapatkan peluang untuk menumbuhkan imannya lewat kesibukan pelayanan di gereja seperti terlibat dalam koor atau paduan bunyi, konduktor, pembaca doa, pembawa persembahan, dan lainnya.

 

Wow, Sekolah Asrama akan Dioptimalkan di Papua

Salah satu sekolah di Kabupaten Asmat, Papua.International School Jakarta – Berdasarkan Bambang, sekolah berpola asrama ialah salah satu upaya untuk bisa meningkatkan angka partisipasi sekolah.

Situasi geografis yang relatif susah di Papua menyebabkan banyak siswa sekolah

Yang wajib mencapai perjalanan jauh untuk sekolah. Kecuali itu, lokasi kampung-kampung yang tersebar di berjenis-jenis kawasan mengakibatkan pembangunan pengajaran susah untuk dijalankan.

IASA ialah asosiasi akademisi diaspora Indonesia di Amerika Serikat yang mempunyai perhatian dan dedikasi untuk ikut serta membangun Papua dan Papua Barat layak dengan bidang yang digeluti oleh masing-masing member. Bambang menyambut positif kontribusi IASA dalam membangun Papua. Berdasarkan Bambang, sejumlah tantangan hal yang demikian selama ini membikin hasil pengajaran di provinsi paling timur Indonesia belum maksimal.

“Itu tak kita inginkan. Kita mau 20 persen anggaran pengajaran yang menjadi janji pemerintah dalam APBN dapat memberikan output maksimal,” ujar Bambang.

Bambang mengaku, konsep hal yang demikian telah dikerjakan oleh Kemendikbud. Akan tapi, IASA akan memberikan tambahan dengan menunjang sekolah berasrama memberi pengajaran yang menyeluruh secara khusus di luar jam sekolah. Dia mengaku, ke depannya akan diberi pengajaran karakter dan keterampilan layak kearifan lokal seperti pertanian dan peternakan. Tidak cuma itu, dalam rangka menyongsong era komputerisasi, para murid juga akan diberi pengajaran mendalam berhubungan teknologi info.

Chairman IASA Edward Wanandi mengatakan, terdapat 82 profesor diaspora Indonesia di AS yang mengucapkan berminat untuk terlibat dalam program hal yang demikian. Dari jumlah itu, 25 profesor mengucapkan siap untuk terlibat aktif dan turut mengerjakan program yang telah direncanakan semenjak Maret 2016.

Program IASA akan diawali pada tahun ajaran 2018/2019. IASA akan berprofesi sama dengan sekolah-sekolah yang ada di kawasan target. “Kita akan berprofesi sama dengan sekolah yang telah ada dan bukan dibangun baru. Jadi, kita mencoba memandang kelemahan dan kekurangan yang ada,” ujar Edward. – International School In Jakarta

Mengetahui Cara Pengajaran Kurikulum Cambrige Di Indonesia

 

International School Jakarta – Dalam kesibukan belajar mendidik disekolah tak lepas dari kurikulum. Pada lazimnya, tiap sekolah akan mengaplikasikan kurikulum nasional yang telah ditentukan oleh Kementerian Pengajaran oleh Kementerian Pengajaran dan Kebudayaan (Kemdikbud). Dikala ini, kurikulum yang berlaku disekolah yaitu KTSP dan Kurikulum 2013 yang mulai berlaku pada pertengahan tahun 2016 lalu.

 

Dibeberapa sekolah terdapat berjenis-jenis kurikulum yang mereka pakai demi melengkapi kwalitas belajar para siswanya. salah satunya dengan mengaplikasikan kurikulum international untuk melengkapi pelajaran para siswa. Kurikulum hal yang demikian dikasih nama. Yaitu Kurikulum Cambridge atau Cambridge International A tingkatan.

 

Ben Schmidt, Regional Director for Southeast Asia & Pasific Cambridge International Examinations, dalam sebuah media briefing, Mengatakan bahwa “Kurikulum Cambridge International A Tingkatan Mempersiapakan para pelajar untuk di masa depan, dan terutamanya dalam menghadapi msyarkat global,”

 

Dalam program Kurikulum hal yang demikian, Ben Schmidt mengatakan, bisa menjamin empat hal, adalah kefasihan bahasa inggris, metode pandang internasional, pengajaran yang terkini dan modern, dan bisa memberikan kans kuliah dikampus terbaik didunia. Padahal demikian, kurikulum internasional yang ditawarkan Cambrigde konsisten akan melihat aspek kelokaan Indonesia.
Dianindah Apriyani, Senior Manager Cambridge International Examinations for Indonesia, Menjelaskan bahwa “Sekolah yang mengabungkan Kurikulum Nasional dan Cmbridge audah dapat mengakomodasikan dua kurikulum hal yang demikian. Mereka telah punya pemetaan dalam kurikulum sehingga tak ada tumpang tindih,”

 

Dan salah satu keunggulan dari kurikulum Cambridge ini, adalah melatih siswa berdaya upaya kritis, dan analisa, termasuk kecakapan presentasi para siswa sampai menuntaskan keadaan sulit. Sehingaa, bisa diinginkan para siswa menjadi lebih percaya diri dalam berbincang-bincang didepan biasa.
Kecuali itu juga “Para siswa bisa memilih pembelajaran yang memang diminati dan dikendalikan dengan bagus oleh para siswa. Dan pemakaian kurikulum ini sepenuhnya dikuasai oleh masing-masing sekolah”

 

Dan dalam implementasi kurikulum Cambridge, Dian memaparkan “Implementasi kurikulum ini tergantung pada pada sekolah masing-masing. Dan lazimnya pembelajaran yang paling populer yang dimabil yaitu matematika, fisika, kimia dan ekonomi. Dan kamipun tak memaksakan sekolah melegalkan kurikulum Cambridge, tetapi pada dikala yang paling banyak dalam menggunakan kurikulum ini yaitu sekolah swasta.

 

Dan dikala ini ada terdapat International Schools In Jakarta yang telah menggunakan cara kurikulum Cambridge, adalah Ichthus School yang sudah menggunakan cara kurikulum Cambridge dengan perpaduan kurikulum nasional. Silahkan kunjungi www.ichthusschool.com untuk isu lebih lanjut.