Sulitnya Kompetisi dari Industri Besi dan Industri Baja di Indonesia

Sulitnya Kompetisi dari Industri Besi dan Industri Baja di Indonesia

Pelemahan ekonomi global amat berimbas pada komoditi ekspor Indonesia yang susah tumbuh. Meskipun ekspor ini masih ada, tetapi nilainya kian turun. Salah satu industri yang mengalami pelemahan ekspor ini yaitu sektor besi dan baja.

Ketua Asosiasi Besi dan Baja Indonesia Sukarna mengatakan, keperluan produk besi dan baja tiap tahunnya teru bertambah seiringan dengan pembangunan infrastruktur yang banyak memakai produk ini. Melainkan, produk besi dan baja‎ yang diproduksi oleh industri dalam negeri masih belum kapabel menyangga keperluan hal yang demikian.

Baca Juga: https://solusibaja.co.id/produk-produk-besi-baja-dan-logam/besi-siku/

Pada tahun 2000 keperluan besi dan baja di Indonesia menempuh 4,9 juta ton. Meski industri cuma kapabel memproduksi besi dan baja menempuh 2,8 juta ton.

Kemudian pada 2015, keperluan dalam negeri berada di angka 11,4 juta ton, tetapi industri cuma dapat memproduksi besi dan baja sebesar 4,9 ton ton. Artinya ketika ini pemerintah sepatutnya menjalankan impor besi dan baja menempuh 6,5 juta ton, poin ini meningkat tinggi dari 2005-2015.

“Gap antara keperluan dalam negeri kian melebar. Peningkatan keperluan selama ini tak dibarengi dengan peningkatan produksi industri dalam negeri,” kata Sukarna dalam dikusi ‘Bidang Perindustrian dan Perdagangan Kadin Indonesia.

Sukarna yang juga menjabat Presdir Krakatau Steel ini menerangkan, industri baja sebagai salah satu industri besar di Indonesia buktinya masih belum kapabel mendorong pertumbuhan infrastruktur dalam negeri.

Dari data Badan Sentra Statistik (BPS), pada 2007 neraca perdagangan besi dan baja sudah mengalami defisit tiga miliar dolar AS. Defisit ini mengalami puncaknya pada 2012 saat neracar perdagangan ini mengalami defisit 9,3 miliar dolar AS. Melainkan angka ini mulai kembali menurun dan pada 2014 defisit berada di angka 7, 2 miliar dolar AS.

‎Berdasarkan Sukarna, kesusahan dalam menaklukkan produk besi dan baja impor sebab harga produk yang didatangkan ke dalam negeri kian murah. Sementara produk dalam negeri yang mempunyai ongkos produksi jauh lebih tinggi diperbandingkan dengan negara pesaing.

Murahnya harga ini kian menekan industri dalam negeri sesudah asosiasi negara di Asia Tenggara (Asean) menjalankan perjanjian perdagangan atau Tidak Trade Zone (FTA) dengan sejumlah negara ‎seperti Cina (ACFTA), Korea (AKFTA), Jepang (IJ-EPA), dan India (AIFTA).

 

Baca Juga: https://solusibaja.co.id/produk-produk-besi-baja-dan-logam/plat-bordes-chekered-plate/

Posted In CategoriesBisnis